Tampilkan postingan dengan label Bioteknologi Berbasis Mikroba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bioteknologi Berbasis Mikroba. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Agustus 2011

Bagaimana Cara Bertani Berorientasi Bisnis

Belakangan, tekanan dunia internasional terhadap pencemaran lingkungan semakin ketat. Kampanye produk hijau demikian gencar dilakukan. Kalangan industri di Barat pun mulai mengubah orientasi dan paradigmanya untuk lebih mengutamakan penggunaan bahan-bahan yang lebih bersahabat dengan lingkungan. Begitu juga dengan bisnis pertanian.

Kalau Anda sering berbelanja di supermarket atau mall, tak sedikit dijual beras, sayuran, maupun buah-buahan dengan label organik. Dibandingkan produk-produk pertanian konvensional lainnya yang dijual, penampilan produk-produk organik tidak terlalu berbeda. Baik dari kualitas penampilannya yang segar dan tidak cacat oleh ulat, warna daun sayuran atau buahnya yang cerah, maupun dari baunya.

Dampak Buruk

Masyarakat modern tampaknya semakin sadar dengan kesehatannya. Merekapun mulai meninggalkan dampak buruk pertanian konvensional yang terlalu banyak menggunakan bahan-bahan kimia. Apalagi penggunaan bahan kimia ini terbilang boros, dari sejak pembenihan, penanaman, penyemprotan dan pembasmian penyakit, hingga pengawetannya umumnya menggunakan bahan-bahan kimia. Dampak buruk dari bisnis pertanian non-organik makin terlihat dengan produknya yang semakin menurun. Lahan-lahan pertanian maupun perkebunan tak lagi subur dan menghasilan produksi dalam kapasitas yang cukup. Tak jarang pula panen gagal dipetik akibat berbagai sebab, utamanya hama tanaman yang makin kebal terhadap bahan kimia.

Selain itu, jenis penyakit yang menyerang manusia juga semakin banyak dan beragam. Kalau pada jaman dulu, orang-orang tua kita banyak yang sehat dan jarang muncul penyakit, apalagi penyakit yang berbahaya, namun kini penyakit mematikan seakan selalu mengintip bahkan mengiringi aktifitas konsumsi manusia. Apalagi produk-produk makanan kemasan buatan pabrik yang banyak mengandung bahan kimia kian gencar menyerbu lemari pendingin di rumah kita.

Gaya Hidup Sehat

Gaya hidup kembali ke alam atau back to nature, belakangan marak dan menjadi trend masyarakat, khususnya di kota-kota besar. Fenomena ini terutama dipengaruhi banyaknya temuan tentang dampak buruk pemanfaatan bahan-bahan kimia dalam pertanian. Melalui perilaku dan pola hidup sehat, masyarakat mulai meninggalkan produk-produk makanan yang dihasilkan dari pertanian konvensional ke produk hijau sebagai hasil pertanian organik. Kecenderungan baru ini tentu saja turut mempengaruhi bisnis pertanian secara keseluruhan. Produk-produk industri pangan di Barat sudah mulai mengurangi atau mencari alternatif yang lebih alami. Dari saat penanaman hingga pengemasannya untuk diekspor sudah banyak yang menggunakan bahan-bahan organik.

Begitu juga saat pengolahannya menjadi produk jadi dalam bentuk makanan atau minuman kemasan, mulai banyak yang mencantumkan penggunaan bahan-bahan non-kimia dalam kemasannya. Sementara di Indonesia, produk hijau pun mulai banyak membanjiri toko dan pasar swalayan. Dari beras, sayuran, buah-buahan, hingga bumbu dapur sudah mulai banyak dihasilkan dari pertanian organik. Ini tentu saja menggembirakan. Apalagi harganya yang umumnya lebih mahal dari produk pertanian konvensional, tentunya menjadi peluang yang cukup menguntungkan bagi para petani maupun produsen.




Grab The Bookmarketer For Your Site

Rabu, 04 Juni 2008

Masa Depan dan Produk Bisnis Pertanian Indonesia

A. Pengertian Revitalisasi Pertanian
Revitalisasi pertanian mengandung arti sebagai kesadaran untuk menempatkan kembali arti penting sektor pertanian secara proporsional dan kontekstual dalam arti menyegarkan kembali vitalitas memberdayakan kemampuan dan meningkatkan kinerja pertanian dalam pembangunan nasional dengan tidak mengabaikan sektor lain.
Revitalisasi bukan dimaksudkan membangun pertanian at all cost dengan cara-cara yang top-dwon sentralistik; bukan pula orientasi proyek untuk menggalang dana; tetapi revitalisasi adalah menggalang komitmen dan kerja sama seluruh stakeholder dan mengubah paradigma pola pikir masyarakat melihat pertanian tidak hanya urusan bercocok tanam yang hanya sekedar menghasilkan komoditas untuk dikonsumsi. Pertanian mempunyai multi-fungsi yang belum mendapat apresiasi yang memadai dari masyarakat. Pertanian merupakan way of life dan sumber kehidupan sebagian besar masyarakat kita. Pertanian merupakan pemasok sandang, pangan, dan pakan untuk kehidupan penduduk desa dan kota; juga sebagai pemelihara atau konservasi alam yang berkelanjutan dan keindahan lingkungan untuk dinikmati (wisata-agro), sebagai penghasil biofarmaka dan penghasil energi seperti bio-diesel.
B. Arah Masa Depan Kondisi Petani Indonesia
Sampai saat ini petani masih menghadapi masalah dan kendala yang berkaitan dengan: (a) Akses sepenuhnya terhadap layanan dan sumberdaya produktif; (b) Perlindungan usahatani; (c) Keberdayaan dalam mengembangkan kegiatan yang dilakukan; dan (d) Rendahnya tingkat pendidikan, status gizi dan ketahanan pangan serta kesetaraan gender.
Dalam tahun 1993-2003 jumlah petani gurem (dengan luas garapan kurang dari 0,5 ha) meningkat dari 10,8 juta KK menjadi 13,7 juta KK (meningkat 2,6% per tahun). Sementara itu, luas lahan semakin berkurang dan perkembangan kesempatan kerja di luar pertanian terbatas. Jumlah rumah tangga petani (RTP) menurut Sensus Pertanian (SP) 2003 mencapai 25,58 juta RTP, dan sekitar 40 persen RTP tergolong tidak mampu.
Kualitas SDM pertanian masih rendah. Menurut data BPS tahun 2002, tingkat pendidikan tenaga kerja pertanian yang tidak sekolah dan tidak tamat SD masih sekitar 35 persen, tamat SD 46 persen, dan tamat SLTP 13 persen. Dibandingkan dengan sektor non pertanian pada tahun yang sama, tingkat pendidikan tenaga kerja yang tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD 31 persen, tamat SLTP sekitar 20 persen, dan tamat SLTA 27 persen.
Status gizi penduduk Indonesia yang sebagian besar petani masih rendah, walaupun ada perbaikan dari waktu ke waktu. Kualitas konsumsi pada tahun 2002 baru mencapai skor 68,4 PPH (Pola Pangan Harapan). Namun demikian konsumsi energi sudah mencapai 90,3 persen dari AKG (Angka Kecukupan Gizi). Diskriminasi upah bagi wanita dan pria masih ditemui di sektor pertanian yang merugikan peran wanita dalam pembangunan pertanian.
Perlindungan usahatani juga rendah. Belum ada jaminan yang cukup memadai atas perlindungan usahatani mereka, keculai usahatani padi melalui pemberlakuan jamainan Harga Pembelian Pemerintah dan pengenaan tarif beras serta pemberian subsidi dan pengembangan teknologi.
Oleh karena itu, ke depan kondisi petani yang diharapkan adalah : (a) petani memilik akses sepenuhnya terhadap layanan dan sumberdaya produktif; (b) petani mendapat perlindungan usahatani; (c) petani memiliki keberdayaan dalam mengembangkan kegiatan yang dilakukan; dan (d) petani mempunyai tingkat pendidikan, status gizi dan ketahanan pangan serta kesetaraan gender yang cukup memadai sesuai dengan norma yang berlaku.
C. Arah Masa Depan Produk dan Bisnis Pertanian
Menyadari nilai tambah yang diperoleh dari pengembangan produk olahan (hilir) jauh lebih tinggi dari produk primer, maka pendekatan pembangunan pertanian ke depan diarahkan pada pengembangan produk (product development), dan tidak lagi difokuskan pada pengembangan komoditas. Pengembangan nilai tambah produk dilakukan melalui pengembangan industri yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan, baik produk antara (intermediate product), produk semi akhir (semi finished product) dan yang utama produk akhir (final product) yang berdayasaing.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pengembangan agroindustri perdesaan diarahkan untuk: (a) Mengembangkan kluster industri, yakni industri pengolahan yang terintegrasi dengan sentra-sentra produksi bahan baku serta sarana penunjangnya, (b) Mengembangkan industri pengolahan skala rumah tangga dan kecil yang didukung oleh industri pengolahan skala menengah dan besar, dan (c) Mengembangkan industri pengolahan yang punya dayasaing tinggi untuk meningkatkan ekspor dan memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Agenda utama pengembangan agroindustri perdesaan adalah penumbuhan agroindustri untuk membuka lapangan kerja di perdesaan, dengan kegiatan utama: (a) Fasilitasi penerapan teknologi dan sarana pengolahan hasil pertanian di sentra-sentra produksi; (b) Pengembangan infrastruktur penunjang di perdesaan, seperti listrik, jalan, dan komunikasi; (c) Pengembangan akses terhadap permodalan; dan (d) Peningkatan mutu, efisiensi produksi dan pemasaran.
Dengan demikian masa depan produk dan bisnis pertanian adalah berupa produk berbasis agroindustri yang memiliki daya saing dan agroservice dengan kandungan teknologi tinggi.





Grab The Bookmarketer For Your Site
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...